Welcome to our website. Neque porro quisquam est qui dolorem ipsum dolor.

Lorem ipsum eu usu assum liberavisse, ut munere praesent complectitur mea. Sit an option maiorum principes. Ne per probo magna idque, est veniam exerci appareat no. Sit at amet propriae intellegebat, natum iusto forensibus duo ut. Pro hinc aperiri fabulas ut, probo tractatos euripidis an vis, ignota oblique.

Ad ius munere soluta deterruisset, quot veri id vim, te vel bonorum ornatus persequeris. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Rabu, 01 Februari 2012

Akibat Kerusakan Hutan Terhadap terumbu Karang

Pencurian kayu atau penambangan hutan yang ilega dan pembabatan hutan tanpa terkendali, tidak hanya menyebabkan kawasan resapan air jadi berkurang, selain hutan menjadi gundul dan rusaknya berbagai ekosistim didaratan yang berkaitan langsung, terumbu karang yang hidupnya didasar lautpun terkena akibatnya. Erosi yang terjadi daratan yang mengakibatkan terbawanya lumpur ke laut melalui aliran sungai merupakan unsur yang mengancam kelestarian terumbu karang.

Letak Indonesia yang berada di daerah tropik, mempunyai kawasan hutan dan terumbu karang yang luas. Terumbu Karang tersebar hampir di sluruh di Kepulauan Indonesia, demikian juga halnya dengan kawasan hutan. Semakin berkurangnya kawasan hutan dan jumlah tegakan pohon menyebapkan erosi dari daratan makin banyak yang hayut kelaut melalui aliran sungai. Erosi terjadi karena akibat semakin rendahnya kemampuan tanah untuk menyerap air. Jadi secara tidak langsung erosi yang terjadi didarat dapat berpengaruh secara signifikan terhadap kelestarian terumbu karang.

Hutan sebagai salah satu ekosistim, sama halnya dengan terumbu karang selain menerima input materi dan energi dari eksosistim lain juga mengeluarkan output materi energi ke ekosistim lain. Energi yang dihasilkan terumbu karang misalnya, akan dikonsumsi oleh predator-predator dilaut dalam, demikin juga dengan energi yang dihasilkan oleh hutan merupakan daya energi hayati yang telah lama dimanfaatkan manusia sejak ratusan tahun lampau.

Kita bisa melihat keterkaitan yang erat unsur-unsur eksosistim yang berlainan yang tedapat didalam rantai makanan. Apabial salah satu unsur mendapat gangguan, maka dampaknya akan terasa pada bagian lain dalam rantai eksosistim tersebut. Dinegara-negara kecil dan sedang berkembang, Indonesia misalnya, terutama di earah pedasaan dan terpencil, sumberdaya bahan bakar minyak (BBM) masih merupakan barang langka. Oleh karena itu kayu telah menjadi sumber daya energi yang paling penting dan sangat berperan penting dalam kehidupan sehari-hari penduduk., selain sebagai bahan bakar, kayu juga difungsikan sebagai bahan untuk mengawetkan hasil-hasil pertanian.
Untuk memenuhi kebuthan akan sumberdaya energi tersebut, tekanan-tekanan dari manusia membuat hutan dieksploitasi secara besar-besaran dan akumulasinya telah melampai batas ekologi yang dibutuhkan ekosistim hutan untuk memulihkan dirinya. Hilangnya hutan mengakibatkan semakin besar tingkat erosi dan semakin tinggi pula kandungan lumpur dalam air sungai. Lumpur ini secara-perlahan namun pasti akan terbawa oleh aliran air sungai ke laut, dimana dikawasan tersebutlah ekosistim terumbu karang berada.

Lumpur-lumpur tersebut akan menutupi terumbu karang, sehingga terumbu karang tidak lagi mendapat cahaya matahari untuk melakukan fotosintesis. Selain tutupan lumpur, limbah-limbah industri dan rumah tanggapun akan terbawa hanyut ke dasar lautan yang menyebapkan terumbu karang tidak bisa berkembang dan mati.

Dengan naiknya daya lingkungan, tekanan manusia terhadap sumberdaya hutan akan berkurang, dan lahan yang telah dibabat akan ditumbuhi lagi oleh hutan, baik secara alami ataupun usaha reboisasi. Dengan adanya usaha ini berati resiko kerusakan hutan , erosi, banjir dapat di tertanggulangi, dengan sendirinya tekananan terhadap terumbu karang di lautan pun dapat diperkecil, walaupun ancaman akibat pemboman dan peracunan ikan masih saja berlangsung. Namun masalahnya adalah apakah kebijakan-kebijakan yang telah pernah dikeluarkan pemerintah sebelumnya pada HPH-HPH mau membagi pendapatannya untuk membiayai pemulihan lingkungan ?, Apakah mereka mau menrapkan secara tegas sanksi-sanksi pelanggaran. Kita sebagai anggota masyarakat, harus berpartisipasi aktif pada tingkat apapun juga baik dalam proses pengambilan keputusan yang dibutuhkan guna mencari solusi bagi kerusakan lingkungan yang dari hari ke hari semakin bertambah.

SAMPAH

Permasalahan sampah tidak hanya dialami oleh bangsa Indonesia, akan tetapi telah menjadi permasalahan dunia. Pertumbuhan penduduk dunia yang bersinergi dengan pertumbuhan ekonomi dan teknologi telah melahirkan industri yang beraneka ragam. Selain mendatangkan kemudahan dan kenyamanan hidup bagi manusia, industri-industri ini juga menghasilkan limbah yang sering disebut dengan sampah.Sampah tidak akan pernah lepas dari denyut nadi kehidupan setiap manusia. Karena dalam berbagai aktivitas kehidupannya, setiap manusia akan menghasilkan sampah sebagai akibat dari penggunaan barang-barang konsumi yang dihasilkan oleh industri-industri tersebut.Pengelolaan sampah merupakan rangkaian kegiatan mulai dari pengumpulan sampah pada wadah di sumber (penghasil), dikumpulkan menuju penampungan sementara, kemudian diangkut ke tempat pemrosesan dan daur ulang, seperti pengomposan, insinerasi, landfilling atau cara lain. Pengelolaan bukan hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga mencakup aspek non teknis, seperti bagaimana mengorganisir, bagaimana membiayai dan bagaimana melibatkan masyarakat penghasil limbah agar ikut berpartisipasi secara aktif atau pasif dalam aktivitas penanganan tersebut (Damanhuri, 2004).Di banyak negara maju, sampah yang diproduksi oleh masyarakatnya (sampah organik dan anorganik) sedapat mungkin diolah dan digunakan kembali untuk dijadikan produk-produk yang bermanfaat..Pemanfaatan sampah organik sebagai bahan utama kompos sudah biasa dilakukan. Karena selain dapat dijadikan pupuk ternyata sampah tersebut dapat mereduksi emisi gas rumah kaca.

Rabu, 25 Mei 2011

A T A P

Fungsi Atap untuk menutup suatu ruang, sehingga isi bangunan, konstruksi, pemakai atau penghuni akan terlindung dari pengaruh iklim ( sinar matahari, hujan, angin, panas, dll ).
Macam-macam bentuk atap :
a) Atap Lasener
b) Atap Pelana
c) Atap Perisai ( mempunyai empat sisi )
d) Atap Perisai Buntung
e) Atap Mansard Perisai Buntung
f) Atap Pelana Lengkung
g) Atap Gergaji
h) Atap Kemah
i) Atap Kerucut
j) Atap Menara
k) Atap Menara Topi Uskup

Pada umumnya untuk keperluan atap, rangka atapnya dibuat dari konstruksi kayu, akan tetapi untuk bangunan yang besar juga dapat digunakan rangka atap dari konstruksi baja.
Untuk konstruksi dari baja sebelumnya harus dihitung dulu beban rumus, sehingga diperoleh besarnya profil baja untuk tiap batang rangka atap, banyak paku keliling ( mur, baut ) yang di pakai dan tebal las yang diperlukan oleh tiap sambungan.

Atap secara keseluruhan terdiri dari 2 bagian utama :
1. Penutup Atap
2. Konstruksi Pemikul ( konstruksi Kap )
Sesuai dengan fungsinya, masing-masing harus memenuhi beberapa syarat :
1. Penutup Atap harus:
a) Cukup tahan lama
b) Rapat air
c) Tidak mudah terbakar
2. Konstruksi kap harus:
a) Cukup kuat
b) Stabil

Ø Bubungan adalah sisi atap yang teratas selalu dalam kedudukan datar. Kebanyakan menentukan arah bangunan.
Bagian-bagian luar atap antara lain :
Ø Tiris atap/ bagian atap terbawah
Ø Garis patahan atap pada tambahan kasan miring garis pertemuan antara 2 bidang atap yang beda kemiringannya.
Ø Jurai luar adalah bagian yang tajam pada atap terletak dari garis tiris dan sampai bumbungan.
Ø Jurai dalam adalah bagian yang tajam pada atap terletak dari garis tiris atap sampai bumbungan
Ø Titik pertemuan jurai dan bumbungan tempat bertemunya 3 bidang atap atau lebih.
Ø Bunbungan penghubung miring, garis jurai pada bidang atap yang bertemu terjadi pada bangunan yang tinggi bumbungannya berbeda letaknya.

Kemiringan Atap
Ø Atap sudut, tinggi atap sama dengan setengah kemiringan atap 450.
Ø Atap terjal, tinggi lebih dari setengah lebar bangunan
Ø Atap datar, biasanya menunjukan kemiringan kurang dari 900 sampai datar. Pengaliran air hujan mulai dari pertengahan bangunan. Kondisi ini cocok untuk atap berlapis aspal.

Sabtu, 07 Mei 2011

TEORI KUMAN SEBAGAI PENYEBAB PENYAKIT

Girolamo Fracastoro (1483 – 1553): mengusulkan bahwa penyakit disebabkan oleh mahluk hidup kecil yang tidak terlihat oleh mata manusia.
Robert Koch (1843 – 1910): adalah salah satu peneliti pertama yang membuktikan bahwa penyebab suatu penyakit adalah kuman yang spesifik.
Pada tahun 1876, koch menemukan penyebab penyakit antharx pada hewan sapi yaitu suatu bakteri yang bernama Bacillus anthracis.
Selanjutnya juga koch dan kawan-kawan juga menemukan penyebab penyakit TBC dan KOLERA, Koch juga merintis teknik-teknik yang dewasa ini banyak digunakan di laboratorium mikrobiologi seperti:
  1. Terknik pewarnaan sel mikroorganisme
  2. Teknik isolasi koloni mikroba yang murni (terdiri dari satu jenis mikroba saja)
  3. Teknik pemiliharaan koloni mikroorganisme pada suatu media yang padat.
  4. Media dipadatkan dengan jalan menambahkan agar atau gelati

Richard J. Petri (1852 – 1921): menciptakan cawan petri, yaitu suatu cawan yang digunakan untuk mengisolasi mikroba dari berbagai sampel.

Tahun 1880: Robert koch merumuskan postulat koch. Postulat ini terdiri dari kriteria yang digunakan untuk menguji penyebab dari suatu penyakit.
Isi dari postula kosh
1. Mikroorganisme spesifik penyebab penyakit tsb.selalu di temukan pada setiap kasus penyakit.
2. Mikroorganisme spesifik penyebab penyakit tsb. Dapat diisolasi dari penderita dan ditumbuhkan dalam bentuk biakan murni di laboratorium.
3. Biakan murni tsb. Akan menimbulkan penyakit dengan gejala yang sama ketika diinokulasikan kedalam tubuh hewan percobaan.
4. Biakan yang sama dengan mikroorganisme penyebab awal harus dapat diisolasikan kembali dari tubuh hewan percobaan yang terinfeksi dan tumbuh lagi sebagai biakan murni.
 isi postulat River
1. Virus harus ditemukan dalam cairan tubuh sewaktu sakit atau dari sel yang menunjukan lesion yang spesifik.
2. Virus yang diperoleh dari hewan terinfeksi harus dapat menimbulkan penyakit pada hewan percobaan dalam bentuk antibodi terhadap virus tsb.
3. Virus yang diisolasi dari hewan percobaan harus dapat ditularkan ke hewan peka lainnya.