Kamis, 23 Agustus 2012

Coka Iba

Coka iba adalah adat budaya gam range yang selalu diadakan pada setiap memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW yang kita kenal dengan Maulud Nabi, dimana dulu kala kononnya 3 orang bersaudara yaitu Kapita Mobon, Sangaji Patani dan Kapita Lau Weda, ketiga penguasa ini adalah satu garis keturunan yang berasal dari Pulau Halmahera, yang hidupnya mengembara dan mendiami pesisir pantai Halmahera untuk menyebarkan agama Islam dipenjuru pulau Halmahera. Pada suatu hari ketiga penguasa ini menggelar rapat untuk membagi zona dalam rangka penyebaran agama islam yang bertepatan dengan Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yaitu pada tanggal 12 Rabiul Awal.
                                   

                                   

Singkat cerita kakak tertua/sulung yaitu Kapita Mobon/Maba Halmahera Timur menegaskan kepada kedua adiknya yaitu Sangaji Patani dan Kapten Laut Weda untuk tugas penyebaran agama islam maka pada tanggal 12 Rabiul Awal itu juga perpisahan itupun terjadi antara ketiga orang bersaudara itu yang walaupun merasa sedih dan pilu serta tak kuasa menerima ini namun demi siarnya Dinul Islam dipersada Halmahera. Sebelum berpisah masing-masing menyampaikan bobeto-bobeto, dola bololo dan moro-moro, Sangaji Patani sebagai Putera Kedua tertua berkata dalam bahasa daerah Patani Myalame Myalam Botone Myalam, Olote Mitebe Yamfu Botone Myalam yang artinya bagaimana saya melihat tanjung ngolopopo yang jauh diseberang lautan, siapa yang akan mengantarkan saya kesana, tak ketinggalan Kapita lau Weda sebagi putera bungsu pun berkata dalam bahasa Tidore, karena dibawah pemerintahan Sultan Tidore sebagai berikut, Manuru doe patani, pura Sali jiko weda,sio biji kasiruta,yo ruru talaga weda, artinya harum semerbak bunga melati sumbernya ada diweda, benih-benih yang ada digebe dan patani sudah disemaikan dan tumbuh ditalaga weda.


Mendengar moro-moro tersebut, kakak sulung alias Kapita Mobon pun berkata dalam bahasa dan dialek mobon/maba, Kabe Aice Mo Were Te Npoloniga Fdel Mo Were Telama yang artinya kalau demikian kalian ikut arus dari weda menuju tempat tujuan, mendengar demikian sangaji patani dan kapten laut weda terkesima dan termenung sambil menjawab, jou lawang pane…posnie mauludga kpolengame inssa Allah bulan Maulid yang akan datang kami akan kembali, lantas sangaji patani berkata jou suba kabefsilinga fponmew lama…….bot pei Maulud na poton(gamsungi), demi Allah jika kalian ingat pada saya, kembali pada kalian di patani untuk sama-sama kita merayakan bulan Maulud akhirnya ketiga penguasa ini bertahan untuk masing-masing menyambut dan merayakan maulud di masing-masing zona yaitu kapita mobon tetap dimobon, sangaji patani tetap di patani gamsungi dan kapten laut weda tetap diweda.

Ketiga bersaudara ini menyadari akan hakikat dari kelahiran Nabi Muhammmad SAW sebagai Rahmatanllil`alamin atau rahmat bagi sekalian alam, sehingga jangannkan batu-batuan, hewan, tumbuhan dan manusia, iblis pun merasa gembira maka atas kesepakatan mereka muncul lah cogo ipa menurut kapten laut weda, tai ipa menurut sangaji Patani dan Ipa ice menurut kapita maba, lalu sultan Tidore menyatukan dengan menggunakan istilah Coka Iba yang artinya dengan falsafah riwayat amal yang dikemas dalam konteks fagogoru,diawali dengan pembacaan sarafal`anam pada tanggal 10 rabiul awal dan diakhiri dengan pembacaan riwayat nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 rabiul awal, dengan latar belakang coka iba sebagai bala tentara atau pasukan bertopeng.
Adat coka iba ini secara turun temurun sampai saat ini masi tetap digelorakan di seluruh wilayah tiga negeri atau gam range pada setiap peringatan Maulud nabi besar Muhammad SAW yang sedianya jumlah coka iba itu 99 orang yang melambangkan Asmaulhusna dan alat pukul yang digunakan adalah 3 batang sapu lidi yang diikat menjadi satu melambangkan tiga negeri bersaudara, maba sebagai putera sulung, patani sebagai putera ke dua dan weda sebagai putera bungsu, sedangkan jenisnya coka iba itu ada tiga yakni coka iba kayu-kayu milik kapita mobon coka iba gome milik sangaji patani dan coka iba loyeng milik kapten laut weda.pada hari ketiga pelaksanaan coka atau hari terakhir yang jatuh pada tanggal 12 rabiul awwal disajikan hidangan makanan dan minuman yang beraneka warna dan ditata dengan indah dimeja makan lalu para coka iba itu saling berebut makanan yang dihidangkan itu. Pemutakhiran Terakhir

6 komentar:

  1. sangat membantu buat tugas ARSITEKTUR KEPULAUAN MALUKU UTARA...
    THANKYOU,,

    BalasHapus
  2. sekedar rujukan info bahwa asal mula tradisi coka iba (caka iba) adalah tradisi lama yg berasal dari pulau makian - yg kemudian disebarkan oleh penyiar2 islam di halmahera, termasuk yg ada di suku sahu, halmahera barat sekarang, dapat dilihat pd perayaan pesta panen padi ladang di suku sahu,,,,,,!

    BalasHapus
  3. Jadi teringat kenangan ketika dulu pernah tinggal di Maba Haltim, pernah kena pukul sama cuka iba waktu itu pas maulid nabi kalau ngak salah dan saya bersama teman-teman lari sambil mengejek mereka.
    Terimakasih admin, gara-gara post-an anda ini' saya jadi teringat kembali kenangan masa lalu.

    BalasHapus
  4. really really mengingatkan masa kecil

    BalasHapus